Showing posts with label life journey. Show all posts
Showing posts with label life journey. Show all posts

Friday, July 11, 2014

Teluk Waru: A Long Way to School

Posted by Unknown at 4:33 PM 0 comments

Pelajar SMP ini tertidur di geladak perahu motor saat perjalanan pulang dari sekolah. Perahu ini juga yang membawa remaja ini menuju ke sekolah setiap pagi, meski dalam kondisi hujan dan ombak tinggi. 

Hari itu (20/6) saya berkesempatan mengunjungi sebuah sekolah di kawasan Teluk Waru, Kariangau. Saat itulah saya ikut merasakan sebuah perjuangan demi menuntut ilmu; terguncang-guncang ombak yang nyaris bikin saya mabok dalam kondisi gerimis lebat selama hampir satu jam.

It's the longest way to school I've ever experienced. 

Gak cukup cuma diguncang-guncang ombak, setelah perahu merapat di dermaga, saya beserta serombongan pelajar SMP dan guru-guru mereka harus melintasi jembatan ulin panjang di atas laut dan melewati perbukitan semak belukar. Kalo dihitung-hitung jarak tempuhnya sekitar 2 km. Saya sampe di sekolah dengan nafas ngos-ngosan. Gak kebayang kalo harus menempuh perjalanan 'bolang' gini tiap hari. 

Rasa lelah itu terbayar saat saya masuk kelas. Sambutan hangat murid-murid dan guru-guru menjadikan perjalanan panjang yang saya tempuh cuma sekedar angka dan satuan panjang. 

Sungguh, malu rasanya diri ini yang seringkali menjadikan jarak tempuh, cuaca dan sarana sebagai alasan untuk tidak serius menuntut ilmu. 

Hari itu saya belajar banyak.
Dari murid-murid yang tanpa mengeluh menyeberangi teluk berombak untuk menuntut ilmu.

Dari guru-guru yang rela bersandal jepit memintas jalan setapak panjang berlumpur untuk mencerdaskan anak bangsa.

Dari para orang tua murid yang ikhlas melepaskan buah hatinya menempuh perjalanan yang bisa jadi penuh resiko ini setiap hari. Mereka pasti telah menyimpan dalam-dalam rasa cemas agar tak terlihat oleh putra/putri mereka.

Juga dari pengemudi perahu yang setia menjemput dan mengantar para pencari ilmu meski tanpa jadwal pulang sekolah yang baku. Yang dia tahu, pada saat air laut pasang, dia harus siap di dermaga dan memastikan pelajar-pelajar itu tiba di tujuan dengan selamat.

Benar-benar pelajaran berharga buat saya ...

Saturday, May 10, 2014

Doodle My Way :-)

Posted by Unknown at 5:49 AM 0 comments
Sejak umur 4 tahun saya udah suka banget doodle alias corat-coret. Mulai dari coretan di kertas, papan tulis, dinding sampe muka orang yang lagi tidur pernah saya jadikan media menuangkan ide. Ketika saya mulai lancar membaca n menulis, kebiasaan doodle ini jadi berkembang jadi menyerupai komik. Saya menciptakan karakter-karakter dan melengkapinya dengan balon kata-kata. Rasanya menyenangkan bisa memvisualisasikan isi pikiran walaupun coretan gambar saya sangat sederhana, kalah jauh dengan buatan adik cowok saya. Dialah satu-satunya orang di keluarga kami yang terlahir dengan bakat seni lukis luar biasa. Saya bisa dibilang cuma memiliki 38% bakatnya.

Toh, meskipun demikian, saya gak berkecil hati. Saya terus melakukan kebiasaan coret-coret ini hingga sekarang. Dan saya bisa melakukannya dimana saja dan dengan media apa saja. Yang paling sering saya doodle di buku agenda saya. Walhasil agenda itu jadi penuh coretan-coretan 'aneh' saya. Hahaha.

Gara-gara kebiasaan coret-coret di sembarang tempat, beberapa teman mulai maksa saya ikutan lomba komik n manga. Tapi saya gak nanggepin serius. Wong bakat cuma ala kadarnya kok nekat mau lomba? Hah, gila kali ye?

Nah, puncaknya minggu lalu. Saya ditawarin ikutan Workshop Kompetisi Komik Indonesia 2014. Kali ini saya mau ikutan karena ada beberapa teman saya yang notabene gak jago-jago gambar juga ikutan. "Ambil ilmunya aja. Kan gak papa ngerti teori doang." Gitu alasan mereka.

Begitulah. Hari ini seharian saya ikutan kumpul di Lt. 4 Perpustakaan Balikpapan bersama sejembreng pelajar SMP, SMA n mahasiswa mengikuti workshop tentang tata cara dan proses pembuatan komik. Tapi yang paling penting, banyak dari peserta workshop yang kemampuannya gak jauh beda dari saya. Hihihi, jadi semangat nih.

Seru juga ternyata. Saya jadi dapet ilmu tentang komik, mulai dari mencari ide, membuat premis cerita, bikin sinopsis, script, storyboard sampe narrative tools. Pokoknya nambah wawasan deh. Satu hal yang bikin makin semangat adalah pesan sang instruktur: 'Siapa saja bisa membuat komik tentang apa saja. Gak harus nunggu jago menggambar dulu baru bisa bikin komik. Tetapi proses belajar mutlak diperlukan untuk bisa menghasilkan komik yang baik'.

Supaya saya gak capek ngetik malem-malem gini (hahaha), nih saya kasih link berisi informasi seputar Kompetisi Komik Indonesia 2014 buat kalian yang penasaran sama kegiatan workshop ini. Semoga bermanfaat :-) 

Please click this link to find further detail: 

http://news.indonesiakreatif.net/kki-2014/

Thursday, May 23, 2013

In the Eyes of a Journalist

Posted by Unknown at 6:30 AM 0 comments
Last night I read Joe Sacco’s Palestine which I borrowed from my brother. This graphic novel told about a nationalism of the forgotten country. Well, there are hundreds authors wrote about Palestine so far but, in my opinion, Sacco did it better. By combining techniques of eye witness reportage with the medium of comics storytelling, Sacco deeply explored the complex, emotionally weighted situation of Palestine. He had spent two months (winter 1991-1992) in Israel and the occupied territories, traveling from one refugee camp to others and taking notes.
            Joe Sacco (right side in the pic) is a cartoonist and journalist. Everything he had worked on Palestine was simply everything what he had heard and witnessed during his Mid-Eastern jaunt. His Palestine then set new standards for the use of comic as a documentary medium. Through his eyes I could see the brutal torturing and pure cruelty happened in Palestine. However, in working on his project, Sacco viewed the object from two different sides: Palestinian and Israeli. He kept himself to be always in the rule of journalism.
            Being journalist is something serious. It needs not only most of your time and energy but also a heart full of sincerity. Your brilliant brain won’t help too much if you don’t have sharp eyes to observe and two ears which are ready to listen. For me, a journalist is more than a professional status people give to someone who reports news. It means prestige and adventure.
            At the age 25 (twelve years ago), I really didn’t have any good reason why I decided to be a journalist. I just sent my application and CV to the local leading newspaper. A week later, I took series of test together with other nine applicants. I was the only female there. And surprisingly, after three days waiting, I was accepted as a journalist.
            Actually, I liked the way a journalist worked. Though I was the only female, my five senior journalists were good friends to share ideas and experiences. I enjoyed the times of we were news-hunting and having fun while I was sitting in front of the compy to prepare my reports. But still, being a journalist was too hard for me.
            I am not truly a late person. Less of sleep made me easily get sick and weak. I wasn’t that tough. In my fifth month working, I gave up although my five seniors did the best to pursue me to stay. Amazingly, they didn’t do it just because what I’ve done, but it was mainly because we were team.
            Last night while I was reading Joe Sacco’s Palestine, I remembered my five seniors. How I learned so much from them. They gave me such an unforgettable experience during the five months I was there. I will always remember those sleepless nights we spent together with cups of coffee (no cigarettes please :p).
            I found Joe Sacco’s soul inside them. Thanks for had been there when I needed support and comfort. I wish you more than luck pals!
           
(Truly dedicated to my five Joe Saccos: Mr. Moenir, Brother Ajid, Brother Rudy, Brother Ono and Faisal)
Photo courtesy http://www.virginmedia.com/images/eyes430x300.jpg

Wednesday, May 22, 2013

Untitled

Posted by Unknown at 7:50 AM 0 comments

Some times ago I felt bored of my ordinary life. It was not fun. Everywhere I went people would ask the same question, “When will you get married?”
            Well of course they had different way in asking this question, like these:
Ø  “What’s up? Ready to get married?” (this was my college friends)
Ø  “Have you found your Superman dear?” (this was sister Hanim, my trip-to-Singapore-soul mate)
Ø  “So when …?” (this was brother Hasan Firdaus. I don’t even need the next words to make sure :p)
Ø  “You’ll remember inviting us for the D-day, right?” (this was my graduate students. You know, they blinked one eye while they were saying those words!)
Ø   “Please, it’s impossible for you to marry that Spencer Reid!” (hahaha, this was sister Mei, one of my BFFs)
Ø  “Sis, my friend’s seeking for woman to be his wife. Wanna try?” (gee, this one was sister Emil)
Ø  And so on, and so on!
Gosh! They made those simple questions so hard to answer. Wanna know what my answers were? I answered like this (based on the list of question above):
Ø  “Sure I am ready. When do you think it’s good? Next year? Next week?”
Ø  “Sorry, my Superman’s still busy helping people all around the world. Do I have choice?”
Ø  “When the time is right for me exactly. Am I right?”
Ø  “Will you be there on the D-day if I invite you guys?”
Ø  “Come on, how can you be so sure that MGG won’t marry me?”
Ø  “Try? Do you think just try is a good idea?”
Ø  And so on, and so on.
I always ended each answer with another question for them. I don’t know whether it’s a kind of creativity or it’s just the way I escape myself from those question. Well I don’t want to spend my days thinking only about the answer of those questions. Life is too short. If they really want to know the answers, all they have to do is waiting for the right time, like I do now. 

Or …, when I and my friends sit together, I show them the pics of Dr. Spencer Reid I saved on mobile phone and seriously say, ”Look, this is my darling pic.”
It may sound silly but, believe it or not, I enjoy looking at the frown on my friends’ face when they find that cute handsome guy on my mobile phone. Hahaha.
I have learned that happiness truly comes from the heart. You’ll be happy when you think you are happy. It doesn’t matter if you are single or married. But still I do believe if we have someone special to share this life, we’ll find the complete happiness in this life. So, there’s no reason for me to be unhappy. The next thing to do is to complete my happiness by thinking positive. Allah will never leave me, though for a while. Bless me always …

Du Liegst Mir Im Hertzen (?)

Posted by Unknown at 7:20 AM 0 comments
Sebenernya itu salah satu judul komposisi di buku piano saya. Sebuah lagu klasik Jerman yang dimainkan pada tangga nada D mayor dengan tempo moderato.
Seperti biasa, sambil main tuh lagu saya iseng ngelamun ngalor ngidul, seolah menciptakan videoklip di benak saya. Du Liegst Mir Im Hertzen dalam Bahasa Inggris artinya you live in my heart.
Secara judulnya emosional gitu, yang muncul di benak saya adalah wajah-wajah orang yang sangat berarti bagi saya. Saking berartinya,  kehadiran mereka susah tergantikan oleh siapa pun.
Yang pertama adalah almarhumah ibu saya. Banyak yang bilang kami sangat mirip satu sama lain. Tapi sebenernya nggak juga. Ibu saya orang rumahan, terampil menangani semua urusan rumah tangga dan sangat feminine, dalam artian beliau mudah sekali tersentuh dan menitikkan airmata. Sementara saya begajulan, hobi naik gunung, nggak bisa masak dan cuek abis.
Namun, meskipun dalam banyak hal kami berbeda, ibu saya adalah sumber inspirasi yang tak pernah kering. I am who I am now because of her. Sedih rasanya kalo inget saya dulu begitu egois, bahkan hanya untuk sekedar bilang ‘I love you’ padanya.
Yang menempati posisi kedua adalah teman-teman pecinta alam saya semasa kuliah di Malang. Ada Didi yang baik hati banget. Dia adalah orang yang rela memberikan ransel North Face-nya cuma gara-gara saya suka warnanya. Dia juga pernah memberi saya karabiner ‘keberuntungannya’ ketika saya gagal menaklukkan jalur panjat Tebing Lembah Kera.
Selain Didi, masih ada Deby,  Bang Johnny, Mbak Min, Mbak Ade, Kak Ian, Koriah, Achoo, Mas Juned, Mas Yusli, Mas Dodo, Mas Leman, Mbak Nanin, Mas Benny, David, Mas Sigit, Mas Helmy, Mas Toto, Mas Dedy, Mbak Ache dan Eny.
Ketika ibu saya meninggal, merekalah yang berdiri di samping saya saat itu, mengurus surat izin absen kuliah, menyediakan tiket pesawat Surabaya-Balikpapan PP dan mengantar saya ke bandara pukul dua dini hari. Saya nggak bisa bayangin seandainya pada saat itu saya tidak memiliki mereka. Mereka sampai menggelar tikar di halaman kost dan bergiliran membaca tahlil sepanjang malam. Sampai saat ini pun, saya belum menemukan orang-orang seistimewa mereka.  
Maka dari itu, Ya Rabb, jadikanlah saya orang yang istimewa bagi mereka … dan juga yang lainnya. Amin.

Tuesday, May 21, 2013

Menjemput Impian

Posted by Unknown at 5:45 PM 0 comments
Banyak impian masa kecil saya yang baru sempat terwujud belakangan ini. Salah satunya adalah ikutan les piano. Sebenernya keinginan itu udah ada sejak jaman saya masih duduk di taman kanak-kanak. Lama banget kan? Saya kecil dulu cuma bisa terkagum-kagum ngeliat salah seorang temen saya memainkan Bethoveen’s Fur Elise di ruang guru.
Yah, bener-bener sekedar nonton ...
… dan berharap dalam hati suatu saat saya juga bisa memainkan komposisi indah itu. (kasian ya?)
Tapi kenyataan memang nggak selalu sejalan dengan keinginan. Kehidupan keluarga saya yang pas-pasan nggak memungkinkan saya untuk bermimpi kelewat tinggi. Alhamdulillah saya masih bisa sekolah sampe perguruan tinggi, sementara ketiga adik saya harus puas jadi lulusan SMA. Singkatnya, cita-cita untuk bisa main piano itu nggak mungkin terwujud. Saya cukup tahu diri dengan keadaan keluarga saya waktu itu. Untung aja saya termasuk tipe orang yang easy-going gitu, jadi yaaa biasa-biasa aja nanggepinnya. Just be happy to be me. Hahaha. (Thank you Allah, for making me like this!)
Ajaibnya, meskipun saya udah sebisa mungkin ngelupain, tetap aja saya nggak pernah bisa sukses seratus persen membuang keinginan itu dari pikiran saya. Mulai deh saya hobi mengoleksi kaset-kaset piano klasik. Kadang-kadang, ketika sedang dengerin kaset-kaset itu, saya berkhayal sayalah pianisnya. Huhuhu …mengharukan banget nggak sih? Hobi ini terus bertahan sampe saya kuliah. Kalo udah bener-bener nggak puas berkhayal, biasanya saya ngomong ke temen sekamar saya, “Kapan yaaaa, aku bisa main piano kayak gitu?”
Dan jawaban temen saya selalu, “Udah sono, tidur aja biar mimpi main piano.” Sadis banget ya? Sekali lagi, untunglah saya bukan tipe orang yang gampang putus asa. Mau dibilang tukang mimpi kek, apa kek, nggak masalah. Punya keinginan kan nggak dosa?
Keinginan saya mencapai puncaknya tahun 2007 lalu. Saya dapet amanah untuk mendampingi murid-murid studi banding ke Singapura. Di hari terakhir kunjungan, kita sempet mampir ke Indonesian Embassy. Nah, disitulah saya ngeliat grand piano dari deket untuk pertama kalinya. Dengan tidak-tahu-malunya, saya langsung menyibak kain beludru merah penutupnya trus duduk di depan tuts-tutsnya. Kalo diinget-inget, kelakuan saya itu pasti aneh banget. Lalu, masih dengan tampang cuek, saya mulai menekan tuts piano itu satu-satu (ternyata tutsnya lumayan berat!).
I felt so hilarious!
Pak Hasan yang kebetulan ngeliat langsung ngeluarin digicam-nya. Mungkin beliau kasian liat kelakuan saya yang ajaib itu.
“Ayo bu, saya foto,” katanya.
Akhirnya foto jepretan Pak Hasan itu jadi satu-satunya foto saya di depan grand piano. Sekembalinya ke tanah air, tekad saya udah bener-bener mantap. Saya harus les piano! Sekarang atau tidak sama sekali. Dan … tanpa mikir macem-macem saya kuras tabungan saya buat beli keyboard. Saya lantas giat nyari info seputar tempat les piano. Dan subhanallah, ternyata tempatnya nggak jauh dari rumah saya. Guru pianonya tetangga se-RT. Jadi agak nyesel nggak dari dulu-dulu saya tau. Maklum, saya sempet lama ninggalin Balikpapan selama kuliah.
Allah emang bener-bener sayang sama saya. Meskipun udah berlalu puluhan tahun sejak kali pertama saya denger Fur Elise, Allah masih memberi saya kesempatan untuk mewujudkan cita-cita terpendam itu. Sekarang cita-cita itu bukan lagi impian. I did it!
Kini, setiap kali saya memainkan Fur Elise itu, yang terbayang di kepala saya adalah cengiran lebar temen sekamar saya dulu, “Udah sono tidur, biar mimpi main piano.”
But I know I am not dreaming now!

(I’d like to thank Pak Iin - my piano teacher - the one who patiently introduced me to those rudiments of music, thanks for helping me to reach my dreams. May Allah bless you always).

Note: tulisan ini meraih Juara Favorit Lomba Menulis Tentang Impian yang digelar oleh Diva Press tiga tahun lalu.
 

A Piece of Heaven Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review